Muhammad Ainul Yakin Simatupang


Muhammad Ainul Yakin Simatupang,  atau yang akrab dikenal dengan nama Yakin Simatupang, adalah tokoh muda Nahdlatul Ulama yang menonjol di bidang keagamaan, kepemudaan, pendidikan, serta komunikasi publik. Ia lahir di Simangalam pada tanggal 3 Juni 1987. Selain dikenal sebagai seorang akademisi dan penghafal Al-Qur’an 30 juz, Yakin juga merupakan pemimpin yang aktif dalam berbagai gerakan keislaman dan kebangsaan, khususnya melalui wadah Gerakan Pemuda Ansor.

Sejak Maret 2022, ia mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor DKI Jakarta periode 2022–2026, setelah terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Wilayah XVIII yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede. Di bawah kepemimpinannya, GP Ansor DKI Jakarta diarahkan menjadi organisasi yang tidak hanya konsisten dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga responsif terhadap tantangan zaman, terutama dalam menghadapi era digital, politik identitas, dan krisis toleransi.

Yakin Simatupang membawa visi kepemimpinan yang progresif dengan menekankan tiga pilar utama: kaderisasi berbasis kualitas, penguatan kapasitas digital kader, dan penguatan peran GP Ansor dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman Jakarta. Ia meyakini bahwa GP Ansor tidak cukup hanya menjadi benteng tradisi, tetapi juga harus menjadi agen transformasi sosial yang menjawab kebutuhan generasi muda saat ini.

Salah satu program unggulan di bawah kepemimpinannya adalah Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Akbar, yang dilaksanakan sebagai langkah awal mengonsolidasikan ribuan kader di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, Yakin mendorong agar kader-kader Ansor mengenyam pendidikan tinggi, minimal sarjana, dan terlibat aktif dalam ruang-ruang intelektual serta advokasi publik. Ia bahkan menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan untuk memberikan akses beasiswa, termasuk melalui Universitas Terbuka.

Pada tahun 2024, ia dipercaya sebagai Tenaga Ahli Menteri Agama Republik Indonesia dalam bidang Hubungan Antar-Kelembagaan dan Humas, di mana ia turut merumuskan strategi komunikasi kebijakan publik serta memperkuat literasi digital di lingkungan Kementerian Agama. Ia sering tampil sebagai narasumber dalam forum-forum kebangsaan, media gathering, dan diskusi kebijakan, membawa pesan Islam yang moderat, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai figur publik, ia aktif menyampaikan gagasan dan aktivitasnya melalui media sosial, terutama Instagram dan platform digital lainnya, guna menjangkau generasi muda dan memperluas pengaruh dakwah kebangsaan yang moderat. 

AM. Syahrir Rahman


AM. Syahrir, SQ, M.Si, atau biasa dikenal dengan Syahrir Rahman adalah seorang akademisi, da’i, dan pengasuh pondok pesantren yang lahir di Desa Bulukading, Kecamatan Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Meski berasal dari darah Bugis, hidupnya lebih banyak dihabiskan di Jawa Timur, tepatnya di Desa Banjar Kemuning, Sedati, Sidoarjo. Syahrir, sapaan akrabnya, memulai pendidikannya di MTs Nurul Huda Kalanganyar Sedati sebelum kembali ke kampung halamannya untuk dididik langsung oleh kakeknya, KH. Lanre Said, pengasuh Pesantren Darul Huffadh (Pesantren 77) di Kajuara, Bone.  

Tidak lama berselang, Syahrir memutuskan merantau ke Jawa Timur untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Ta'limil Qur'an Pasuruan. Di sana, ia berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz. Namun, tekadnya untuk mendalami ilmu Al-Qur'an tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Jakarta dengan menempuh pendidikan tinggi di Institut PTIQ Jakarta pada tahun 1994. Di PTIQ, Syahrir tidak hanya membangun karakter sebagai seorang hafidz Al-Qur'an yang rendah hati, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan sosial, seperti PMII Kebayoran Lama Jakarta Selatan, PW GP Anshor DKI Jakarta, PW JQH NU DKI Jakarta, dan PP FKDMI (Forum Komunikasi Da'i Muda Indonesia) Jakarta.  

Pada tahun 2000, Syahrir meraih prestasi gemilang dengan terpilih sebagai salah satu da’i muda Indonesia yang berkesempatan mengikuti Daurah Imam dan Khutoba’ di Mujamma’ Abu Nur, Damaskus, Suriah. Pengalaman ini memperkaya wawasannya dalam bidang dakwah dan keislaman. Setelah kembali ke Indonesia, ia memulai pengabdiannya sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain Fakultas PAI-Tarbiyah UNSURI Surabaya, STIQ Al-Khoziny, dan ITATS Surabaya. Ia juga terlibat dalam pendirian Ma'had 'Aly di IAIN Surabaya (kini UINSA) dan aktif sebagai staf BPM NU RSI Siti Hajar Sidoarjo hingga tahun 2022.  

Di Sidoarjo, Syahrir juga aktif dalam dunia organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris PW LESBUMI Jawa Timur pada masa kepemimpinan KH. Ali Maschan Moesa sebagai Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Timur. Selain itu, ia juga menjadi Ketua PW FKDMI Jawa Timur, Sekretaris ISHLAH (Ikatan Silaturahmi Hafidh-Hafidhoh) Kabupaten Sidoarjo, dan salah satu pendiri Lembaga Tahfidh Qur’anic Center Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2014. Di bidang politik, ia aktif di PC PKNU Sidoarjo sebagai Wakil Ketua I.  

Kini, Syahrir telah kembali ke dunia pesantren, habitat yang paling ia cintai. Pada tanggal 14 Juli 2020, ia mendirikan Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an-2 di Desa Ngampelsari, Candi, Sidoarjo. Pesantren ini kini memiliki 40 santri dan terus berkembang dengan program-program unggulan, seperti MTs Tahfidh dengan sistem akselerasi dua tahun. Program ini fokus pada tahfidhul Qur’an dan penguasaan bahasa Arab, mencetak generasi muda yang tidak hanya hafal Al-Qur’an tetapi juga menguasai bahasa sebagai alat untuk memahami khazanah keislaman secara lebih mendalam.  

Syahrir adalah sosok yang menginspirasi dengan dedikasinya yang tinggi terhadap pendidikan, dakwah, dan pengembangan masyarakat. Kehidupannya mencerminkan integritas seorang hafidz Al-Qur’an yang tidak hanya berpegang pada tradisi tetapi juga terbuka terhadap perkembangan zaman. Melalui pesantrennya, ia berkomitmen untuk melahirkan generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan agama. Semoga perjalanannya terus diberkahi dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat.  

Syahrir juga dikenal sebagai penulis dan pembicara dalam berbagai seminar keislaman. Karya-karyanya banyak menginspirasi para santri dan mahasiswa. Selain itu, ia aktif dalam kegiatan sosial, seperti pengajian rutin dan pembinaan masyarakat, menunjukkan bahwa ilmu yang dimilikinya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain.  

Dengan segudang pengalaman dan dedikasi yang tak kenal lelah, AM. Syahrir, SQ, M.Si, adalah teladan bagi siapa saja yang ingin menggabungkan kecintaan pada Al-Qur’an dengan pengabdian nyata bagi masyarakat.

Ahmad Rofiuddin Mahfuzh


Di sebuah kampung sederhana di Kalidadi, Lampung Tengah, pada tahun1980, lahir seorang anak yang kelak akan menjadi salah satu putra terbaik di bidang Al-Qur'an. Ahmad Rofiuddin Mahfuzh, begitulah nama yang diberikan orang tuanya, tumbuh dengan lingkungan religius yang kuat di tanah Lampung.

Perjalanan intelektualnya dimulai ketika pada tahun 2000 ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke PTIQ Jakarta. Selama menempuh studi di kampus yang dikenal sebagai pusat studi Al-Qur'an ini, Rofiuddin tidak hanya menyelesaikan pendidikan sarjananya di bidang Tarbiyah pada tahun 2005, tetapi juga berhasil menghafal seluruh 30 juz Al-Qur'an. Prestasi ini menjadi landasan kuat bagi perjalanan hidupnya selanjutnya.

Setelah menyelesaikan S1, Rofiuddin melanjutkan pendidikannya di program Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir PTIQ, yang berhasil diselesaikannya pada tahun 2009 dengan tesis berjudul "Dzul Qurba dalam Perspektif Al-Qur'an". Selama masa studinya, ia aktif dalam berbagai organisasi, baik organisasi kemahasiswaan maupun keagamaan, yang mengasah kemampuan kepemimpinannya.

Kembali ke Lampung setelah menyelesaikan pendidikan, Rofiuddin tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga tekad kuat untuk mengembangkan pendidikan Al-Qur'an di tanah kelahirannya. Dengan semangat yang membara, ia mendirikan Madrasah Aliyah Unggulan Tahfizh dan menjadi pengasuh PPTQ Al-Mukhlisin Lampung. Melalui Yayasan Al-Mahfuzhiyah yang dipimpinnya, ia berhasil menciptakan pusat pendidikan Al-Qur'an yang berkualitas.

Prestasinya di bidang Al-Qur'an pun tidak main-main. Rofiuddin pernah meraih juara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional untuk cabang hafalan 30 juz dan tafsir. Kemampuannya ini kemudian mengantarkannya menjadi dewan hakim MTQ di berbagai tingkat, mulai dari provinsi Lampung, DKI Jakarta, hingga tingkat nasional.

Selain aktif sebagai pendidik, Rofiuddin juga menjalankan peran sebagai imam Masjid Istiqlal dan dosen, menyebarkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat yang lebih luas. Keahliannya dalam tilawah, tahfizh, dan tafsir Al-Qur'an membuatnya sering dilibatkan dalam berbagai program pemerintah terkait pengembangan Al-Qur'an.

Meski telah mencapai banyak prestasi, Rofiuddin tetap rendah hati. Ia menganggap PTIQ sebagai wasilah yang telah membentuk dirinya. "PTIQ menjadi jalan bagi saya untuk mengembangkan dan mempertajam kemampuan dari rumah, serta menjadi wadah untuk bisa berkiprah di masyarakat," ujarnya penuh syukur.

Namun, sebagai alumni yang peduli, ia juga menyampaikan harapannya agar PTIQ tetap mempertahankan jati dirinya sebagai pusat studi Al-Qur'an. "Program Qur'an adalah ciri khas PTIQ. Semestinya dengan berkembangnya berbagai metode pembelajaran Al-Qur'an, PTIQ bisa menjadi garda terdepan dengan program unggulan yang menghasilkan lulusan yang benar-benar hafal Al-Qur'an," tuturnya.

Prinsip hidupnya sederhana namun mendalam: "Seperti orang NU yang lama yang baik tetap dipertahankan, sambil mengambil yang baru yang lebih bermanfaat." Prinsip inilah yang terus mendorongnya untuk berkontribusi lebih besar dalam dunia pendidikan Al-Qur'an, tanpa melupakan akar tradisi yang telah membentuknya.

Hingga kini, di usianya yang telah menginjak awal 40-an, Ahmad Rofiuddin Mahfuzh tetap setia pada misinya: menjadikan Al-Qur'an bukan sekadar hafalan, tetapi pedoman hidup yang diamalkan dan diajarkan kepada generasi penerus. Melalui lembaga-lembaga pendidikannya di Lampung, ia terus menebar manfaat, membuktikan bahwa ilmu Al-Qur'an yang diperolehnya di PTIQ benar-benar dapat mengubah kehidupan masyarakat.

Ali Zawawi



H. Ali Zawawi, MA lahir di Demak, Jawa Tengah, pada Kamis, 28 Juli 1960, bertepatan dengan 4 Shafar 1380 H. Ia tumbuh di lingkungan yang mempertemukan kesederhanaan hidup dengan tradisi keagamaan yang kuat. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD dan MI di tanah kelahirannya hingga lulus pada 1973. Setelah itu, jalan hidupnya membawa dia memasuki dunia pesantren—sebuah ruang pendidikan yang kelak memberi warna penting bagi cara berpikir, sikap, dan pengabdiannya.

Ia menimba ilmu di Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Jawa Tengah, hingga 1980, kemudian melanjutkan perjalanan keilmuan di Pesantren Salafiyah Salatiga hingga 1984. Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menjadi ruang pembentukan watak. Di sana, pengetahuan tidak dipisahkan dari pengabdian, dan ilmu tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan diharapkan menemukan jalannya dalam kehidupan.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Ali Zawawi melanjutkan perjalanan akademiknya ke Jakarta. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta pada 1991, di tengah kesibukan bekerja dan sebagai aktivis ia menyelesaikan pendidikan magister di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta pada 2006. Jalan akademik itu mempertemukan tradisi keilmuan pesantren yang telah membentuk dirinya sejak muda dengan dunia intelektual modern yang berkembang di ibu kota.

Komitmen terhadap dunia ilmu kemudian membawanya melanjutkan pendidikan hingga tingkat doktoral di Universitas PTIQ Jakarta. Dalam penelitian disertasinya, ia mengangkat tema tenggelamnya pantai utara Jawa sebagai mikrokosmos kepunahan global dalam perspektif tafsir transformatif Triad Nalar Qur’ani.

Penelitian ini bertujuan mengonstruksi sebuah kerangka epistemik baru yang digali dari tiga fungsi Al-Qur'an, yaitu Triad Nalar Qur'ani (TNQ) yang meliputi Tashdiqi (nalar integrasi/konfirmasi sains), Haimani (nalar kritik/supervisi atas cara pandang eksploitatif), dan Furqani (nalar diferensiasi/solusi transformatif). Kerangka teoretis ini akan diuji validitas empirisnya (empirical validation) pada fenomena bencana tenggelamnya kawasan pesisir Sayung, Demak. 

Di balik perjalanan intelektual dan pengabdiannya, terdapat kehidupan keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan dirinya. Ali Zawawi menikah pada 1991 dengan almarhumah Tsamrotun Nasikha, yang berpulang pada 15 Oktober 2023. Dari pernikahan tersebut lahir empat orang anak: Janji Mustawa, lahir 11 April 1992, sarjana ilmu politik FISIP Universitas Brawijaya Malang; Mahasena Alfafa, lahir 24 Juli 1995, sarjana teknik komputer Universitas Indonesia; Mohamad Arsya Kaukabi, lahir 24 Februari 2001, sarjana fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang; dan Sanabila Afnan Alisa, lahir 30 Juli 2014, kelas 7 MTs Negeri 3 Jakarta. Saat ini ia berdomisili di Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Perjalanan pengabdiannya mulai tampak kuat sejak masa mahasiswa. Ia tidak memilih menjadi penonton atas dinamika sosial di sekitarnya. Pada 1985–1986, ia dipercaya menjadi Ketua PMII Komisariat Kebayoran Lama. Setahun kemudian, ia terpilih sebagai Ketua PMII Cabang DKI Jakarta untuk periode 1987–1988. Pada periode yang sama, ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Pengurus Pusat IPNU dan Ketua Jam’iyah Hafazhah al-Qur’an (JHQ).

Kiprahnya kemudian bergerak lebih luas dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Pada 1989–1992, ia dipercaya sebagai Kepala Bagian Penerbitan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU yang menerbitkan Tabloid Warta NU pada era Gus Dur. Dunia organisasi baginya tampaknya bukan sekadar tempat menjalankan jabatan, melainkan ruang untuk mempertemukan gagasan, jaringan sosial, tradisi intelektual, dan kepentingan masyarakat.

Perjalanan itu terus berkembang. Ia pernah menjadi Kepala Divisi Kajian dan Penelitian Forum Indonesia Satu pada 2000–2006, Sekretaris Yayasan Saifuddin Zuhri pada 2002-2026, Sekretaris Yayasan Teknologi Agribisnis Indonesia pada 2004–2007, serta terlibat dalam jajaran Litbang dan Dewan Pakar Pusat DPP PPP pada 2003–2012. Dari berbagai ruang tersebut, terlihat satu benang merah: keinginannya untuk menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kerja sosial dan kelembagaan.

Dunia jurnalistik dan literasi menjadi jalur lain yang tidak terpisahkan dari perjalanan intelektualnya. Karier jurnalistiknya dimulai sebagai wartawan Warta NU pada 1985–1995, kemudian berlanjut sebagai penulis kolom detik-detik menjelang reformasi di Harian Pelita pada 1997–1999. Ia juga dipercaya menjadi redaktur di sejumlah jurnal dan media kelembagaan, antara lain Jurnal Al-Burhan PTIQ pada 1995–2005, Jurnal Civility FIS pada 2000–2005, serta Berita Konstitusi dan Jurnal Konstitusi, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia pada 2002–2006.

Menulis baginya bukan sekadar pekerjaan teknis. Tulisan menjadi cara untuk merawat gagasan, mendokumentasikan pengalaman, sekaligus menjembatani dunia keilmuan dengan masyarakat. Produktivitas tersebut tercermin dalam berbagai karya yang lahir melalui kolaborasi, penerjemahan, penyuntingan, dan penulisan mandiri.

Dalam kategori karya tulis kolaborasi, tercatat 17 judul buku. Karya-karya tersebut mencakup tema keislaman, pembangunan nasional, sejarah dan biografi tokoh, kelembagaan negara, politik, manasik haji, serta kehidupan pesantren. Rentang tema yang luas itu menunjukkan bahwa perhatian intelektualnya tidak berhenti pada satu bidang, tetapi bergerak mengikuti berbagai persoalan yang bersentuhan dengan agama, masyarakat, negara, dan kebudayaan.

Dalam kategori karya terjemahan, tercatat 3 judul buku. Kegiatan menerjemahkan memperlihatkan sisi lain dari kerja intelektualnya: membawa gagasan dari ruang pemikiran yang lebih luas ke dalam bahasa yang dapat diakses pembaca Indonesia. Di sini, penerjemahan bukan hanya pekerjaan kebahasaan, tetapi juga sebuah bentuk jembatan pengetahuan.

Sementara itu, dalam kategori karya tulis mandiri dan penyuntingan tunggal, tercatat 6 judul buku. Tema-temanya bergerak dari materi dakwah dan pembangunan manusia dalam perspektif Al-Qur’an hingga persoalan sosial, ekonomi, politik, pemikiran tokoh Islam, dinamika politik nasional, dan perjalanan politik kelembagaan. Keseluruhan karya tersebut memperlihatkan konsistensi perhatiannya pada hubungan antara agama, manusia, masyarakat, dan kehidupan kebangsaan.

Perjalanan Ali Zawawi juga membawanya memasuki dunia pemerintahan, legislatif, dan pelayanan keagamaan. Ia pernah menjadi staf pengajar Fakultas Syariah PTIQ Jakarta pada 2000–2004. Di lingkungan lembaga legislatif, ia menjalankan tugas sebagai Staf Ahli Pimpinan DPR RI pada 2002–2004, Staf Ahli Fraksi PPP MPR RI pada 2004–2009, dan Staf Ahli Pimpinan MPR RI pada 2009–2014. Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia pada 2014–2019.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan wajah lain kehidupan berbangsa. Jika pesantren membentuk dasar keilmuan dan organisasi mengasah kemampuan berinteraksi dengan masyarakat, maka dunia pemerintahan mempertemukannya dengan proses pengambilan keputusan publik. Di ruang-ruang itulah gagasan diuji oleh kenyataan, sementara idealisme harus berhadapan dengan kompleksitas kelembagaan.

Dalam pelayanan ibadah haji, pengabdiannya berlangsung cukup panjang. Ia memulai kiprah di Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sebagai petugas non-kloter pada 1996. Dua dekade kemudian, ia dipercaya menjadi Pengendali Teknis Bina Ibadah pada 2016, Konsultan Bina Ibadah pada 2017, kemudian Kepala Bidang Bina Ibadah PPIH Arab Saudi pada 2018 dan 2019. Ia juga memimpin Tim Revisi Buku Paket Manasik Haji Kementerian Agama RI pada 2018.

Pelayanan keagamaan baginya tidak berhenti pada penyelenggaraan administratif. Di dalamnya terdapat persoalan pengetahuan, pembinaan, pendampingan, dan pengalaman spiritual jutaan umat. Karena itu, keterlibatan dalam penyusunan ulang buku manasik menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual sekaligus pengabdiannya.

Di bidang pembinaan seni baca Al-Qur’an, ia turut berkontribusi sebagai anggota Tim Rekrutmen Dewan Hakim dan Dewan Pengawas MTQ/STQ tingkat nasional. Ia juga dipercaya menjadi Dewan Hakim sekaligus merangkap Sekretaris Dewan Hakim dalam ajang STQ dan MTQ Tingkat Nasional pada periode 2018–2020. Dunia Al-Qur’an yang telah dikenalnya sejak tradisi pesantren kembali hadir dalam bentuk pengabdian yang lebih luas.

Jika perjalanan hidup seseorang dibaca sebagai sebuah sungai, maka jalan hidup Ali Zawawi memperlihatkan banyak anak sungai yang akhirnya bertemu dalam satu aliran: pesantren, pendidikan akademik, organisasi, jurnalistik, literasi, pemerintahan, pelayanan keagamaan, dan kajian Al-Qur’an. Masing-masing memiliki karakter dan tantangannya sendiri, tetapi semuanya bertemu pada satu pertanyaan yang sama: untuk apa ilmu dipelajari dan untuk siapa pengetahuan diabdikan?

Dari perjalanan tersebut tampak perpaduan antara kedalaman tradisi keislaman pesantren, ketajaman analisis akademis, produktivitas literasi, dan pengalaman panjang dalam kelembagaan negara serta pelayanan masyarakat. Ia menjalani dunia intelektual bukan sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan, melainkan sebagai bagian dari pengabdian.

Pada akhirnya, jejak seseorang tidak selalu diukur dari panjangnya daftar jabatan atau banyaknya karya yang pernah dihasilkan. Yang lebih penting adalah apakah ilmu yang dimilikinya pernah menemukan jalan menuju kehidupan lebih maslahat bagi orang lain. Dalam perjalanan Ali Zawawi, pengabdian itu tampak dalam berbagai ruang: dari organisasi kepemudaan, halaman-halaman media, ruang-ruang akademik, lembaga legislatif dan pemerintahan, pelayanan ibadah haji, pembinaan Al-Qur’an, hingga penelitian tentang krisis ekologis.

Di sanalah warisan intelektual memperoleh maknanya. Ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang dunia, tetapi berusaha menjadi ikhtiar untuk memperbaiki dunia. Dan perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa baginya, ilmu, tradisi, dan pengabdian bukanlah tiga jalan yang saling berjauhan. Ketiganya adalah jalan yang pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: kemaslahatan umat dan bangsa.

JURAIDI

 


Dr. H. JURAIDI, SQ, MA atau Juraidi Malkan sangat mencitai PTIQ. Terbukti dia menempuh pendidikan tinggi dari tingkat sarjana muda sampai doktoral di PTIQ Jakarta. Pria kelahiran Banjarmasin 20 Desember 1962, masuk PTIQ 1981 untuk program sarjana muda dan menyelesaikan program sarjana fakultas ushuluddin jurusan dakwah tahfizh penuh 30 juz pada 1985.
 Saat PTIQ mendirikan program pascasarjana program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada 2001, dia pun segera mendaftar dan lulus pada 2004. Begitu juga ketika PTIQ membuka program doktoral untuk bidang studi Ilmu Tafsir, dia pun langsung masuk sebagai mahasiswanya, pada tahun 2011 dan lulus pada 2014 dengan memertahankan disertasinya yang berjudul “Perbudakan Modern dalam Perspektif Al-Quran”. Sosok ini dapat dibilang sebagai alumni PTIQ 24 karat.

Meski meniti karir di birokrasi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Agama RI, sekarang Kementerian Agama RI, sejak 1989 hingga jabatan tertinggi sebagai Direktur Penerangan Islam, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam menjelang pensiunnya, Juraidi tetap lekat dengan PTIQ, almamaternya. 

Di sela-sela menjalankan tugasnya sebagai aparatur sipil negara di Kemenag, dia merelakan waktunya untuk mengajar di PTIQ secara ikhlas. Karir pekerjaannya tergolong cukup moncer. Dia meniti karirnya sebagai PNS dari staf, eselon IV, III, dan II. Dia pernah menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Lembaga Zakat, kemudian Direktur Urusan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (2017-2019), Direktur Penerangan Agama Islam (2019-2021), dan akhirnya kembali mengabdi ke Universitas PTIQ sebagai dosen DPK sejak 2022.

 Sebagai alumni PTIQ, peran dan aktivitas Juraidi di bidang keagamaan, khususnya di bidang kealquranan tidak diragukan lagi. Dia tidak sekadar hafal Al-Qur’an 30 juz, dia juga memiliki suara yang bagus (dzawil ashwat). Sejak Madrasah Aliyah, dia sudah menjadi Ketua OSIS di MAN Palangkaraya, 1980. 

Begitu juga pada saat masuk PTIQ, dia tergolong aktif dalam berbagai organisasi, baik di internal kampus maupun eksternal kampus. Sebagai mahasiswa dan alumni PTIQ, dia tidak ketinggalan dalam kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), hingga menjadi peserta MTQ tingkat nasional. Karirnya di MTQ mengantarkannya menjadi hakim MTQ tingkat daerah, nasional, dan regional. Tidak mengherankan, sejak mahasiswa sudah memiliki jiwa sosial keagamaan yang kuat.

Juraidi mengakui bahwa PTIQ berkontribusi besar dalam membentuk dirinya dalam berkhidmat kepada agama, bangsa dan negara. Selain sebagai aparatur pemerintah di Kemenag, dia banyak berkiprah di organisasi-organisasi keagamaan dan kealquranan, di tingkat lokal hingga nasional. 

Dia pernah menjadi Wakil Ketua Himpunan Qari-Qariah Kalimantan (HIQKAL),  Wakil Sekretaris Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah Hafizh-Hafizhah (IPQAH) Nasional, Wakil Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Nasional, Wakil Ketua III Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat, dan Sekretaris Umum LPTQ Nasional pada 2018. Organisasi-organisasi tersebut merupakan organisasi yang sangat akrab dengan kehidupan dan kompetensi para mahasiswa dan alumni PTIQ.

Selain itu, di tengah-tengah masyarakat, Juraidi juga aktif di berbagai yayasan sosial keagamaan dan kemasyarakatan. Selain menjadi pembina Yayasan Al-Khairiyah, dia juga menjadi pelopor untuk mendirikan Yayasan Perguruan Islam Al-Fajar, Bekasi dan SMA Dwi Warna, Parung. Pada saat wabah pandemik covid-19 terjadi, dia menggagas santunan bagi para ustadz dan guru ngaji dengan menggandeng BAZNAS dan BPKH. Bersama Baznas, ada 1.000 orang yang disantuni. Dan bersama BPKH berhasil menjangkau 3.000 orang se-Indonesia.

Saat covid-19 merajalela, saat itu bulan Ramadan 1440 H/2020, Juraidi juga menyelenggarakan MTQ Nasional secara online bekerjasama dengan televisi INDOSIAR selama sebulan penuh. Acara INDONESIA MENGAJI "Ramadhan di Rumah Saja" itu disambut baik masyarakat luas. Sebab, saat itu, masyarakat tidak bisa berkegiatan akibat pandemi covid-19. Di tengah cekaman virus ganas itu, justru gema Al-Quran berkumandang melalui media televisi, dan merupakan MTQ online pertama kali di Indonesia.

Tidak hanya aktif secara praktis dalam kehidupan sosial keagamaan, Juraidi juga cukup produktif menuliskan pengetahuan dan gagasannya. Di antara karya-karya yang diterbitkan adalah “Perbudakan dalam Perspektif Al-Quran” Tahun 1998, Bina Rena Pariwara, Jakarta; “Petunjuk Merawat Jenazah & Shalat Jenazah” Tahun 2007, Kalam Indonesia; “Khatam Al-Quran”, 2015. Dan tentu sebagai dosen DPK Universitas PTIQ, karya-karyanya masih akan terus mengalir.

“Ulumul-Quran, seperti tahsin, tahfizh, tafsir, dst, merupakan modal yang sangat berharga yang saya dapat di PTIQ, sehingga saya bisa berkiprah di masyarakat, dan di pemerintahan,” ungkap alumni PTIQ asal Kalimantan Selatan ini suatu ketika.

 

YOSMAN AMIRUDDIN



Drs. H. Yosman Amiruddin, SQ, lahir di Pekanbaru, 20 Agustus 1952. Sebelum kuliah di PTIQ Jakarta 1971, Yosman adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Cabang Pekanbaru, Riau. Baru tiga bulan ia masuk kampus IAIN, tiba-tiba ia ditawari masuk kuliah di PTIQ Jakarta oleh pamannya, sebagai jatah Dewan Kurator. Ia menyambut tawaran itu dengan gembira karena dua alasan: Pertama, ia akan kuliah di Ibukota Jakarta yang pasti kampusnya mentereng. Kedua, ia akan naik pesawat yang pertama kali dalam hidupnya.

Pada hari yang telah ditentukan, sampailah Yoman di Jakarta dengan rasa penuh syukur. Dari bandara, ia dijemput dan menginap di rumah pamannya. Esok harinya, ia diantar pamannya ke kampus PTIQ di Pasar Jumat.

Sesampainya di kampus, Yosman terperangah. Bangunan bayangan yang dibuatnya dari Pekanbaru Riau dengan gambar yang mewah itu seketika bubar berantakan. Ia seperti orang bingung, ia seperti orang planga plongo, terheran-heran melihat keadaan kampus waktu itu. Kampus yang terletak di pinggiran kota Jakarta saat itu, ternyata tidak sementereng dalam imajinasinya.

Setelah diantar ke bagian administrasi untuk pendaftaran, pamannya pulang dan tinggallah ia sendiri dengan rasa gundah. Setelah resmi diterima, Yosman diberi selimut, sprei dan dibawa petugas ke asrama. Sekali lagi ia kaget, penerangan listrik saat itu masih menggunakan mesin diesel dan hanya akan dihidupkan menjelang waktu magrib dan dimatikan lagi setelah jam 22.00 WIB. Mulai saat itulah ia pasrah dan menerima apa saja yang akan diterima. Meski demikian, ia merasa terhibur karena ternyata di sana ia mendapatkan makanan bergizi dan pakaian yang dicucikan sampai diseterika setiap hari secara gratis.

Pada hari kedua, Yosman pergi ke Bagian Pengajaran. Di sana ia ditempatkan di Fakuktas Ushuluddin. Di sana juga ia memperoleh daftar pelajaran dan sekaligus buku-buku teksnya. Tentu saja ia menerima dengan senang hati. Meski semua mata kuliah dianggap biasa, namun ada yang agak janggal waktu itu adalah mata kuliah Tahfidz. Ia pun bertanya lebih detail mengenai Tahfidz ini. Rupanya mata kuliah ini adalah mata kuliah menghafal Quran, dimana setiap tahunnya harus menghafal enam juz. Mendapatkan penjelasan itu, ia terhenyak, apalagi ia datang terlambat dua bulan saat masuk kuliah. Ia harus mengejar hafalan empat surah, yaitu : Yaa Siin, Ad-Dukhaan, As-Sajadah dan Al-Mulk. Memang menghafal Quran waktu itu tidaklah sepopuler saat ini, ia sangat jarang mendengar orang hafal Quran. Mungkin karena ia lulusan PGA atau bukan santri dari pondok pesantren atau bukan juga dari kalangan keluarga alim ulama. Namun berkat dorongan dan harapan orang tuanya, ia berusaha menjalani semua proses pembelajaran di PTIQ dengan penuh semangat.

Hari-hari pertama di PTIQ dilalui Yosman dengan linangan air mata karena beratnya pelajaran yang dihadapinya. Perkuliahan dilaksanakan sehari penuh, mulai pagi, sore, hingga malam hari. Tidak ada baginya kesempatan untuk tidur siang. Namun ia merasa sangat beruntung karena mempunyai banyak teman yang memberikan dorongan, semangat dan motivasi, meski sebagian mereka juga memiliki pengalaman yang hampir sama dengannya.

Beberapa hari di asrama, Yosman terpaksa harus membeli lampu teplok sebagaimana teman-temannya yang lain. Lampu teplok ini akan dinyalakan apabila mesin diesel listrik telah dimatikan untuk melanjutkan belajar. Waktu untuk belajar dan menghafal al-Quran yang disediakan dengan lampu penerangan listrik diesel tidaklah cukup jika hanya sampai pukul 22.00 WIB, lagi pula suara mesin diesel berisik sekali.

Setiap pagi sebelum sarapan, Yosman dan teman-temannya mengikuti senam yang dipimpin oleh bapak Syarifuddin. Mereka dibawa ke komplek Batan. Suasana pagi di sana udaranya segar dan sejuk, rumah-rumah di sekitar kampus sampai ke Batan dan kawasan Lebak Bulus masih rumah-rumah kampung. Masih ada kebun,  pohon duren juga banyak waktu itu.

Setelah setahun berjalan, pada tahun 1972 terjadilah krisis di PTIQ seiring dengan pergantian Menteri Agama dari KH. Moh. Dahlan kepada Menteri Agama yang baru Dr. KH. Mukti Ali. Sebelumnya, PTIQ berada di bawah pengelolaan Yayasan Ihya' Ulumuddin, yang didirikan pada masa Menteri Agama KH. Moh. Dahlan saat itu. Dengan digantinya Menteri Agama, Yayasan Ihya' Ulumuddin seperti "kehilangan" kekuatan untuk mengampu dan mendanai PTIQ. Apa sebabnya Yosman dan teman-temannya tidak tahu persis. Mungkin karena perbedaan kebijakan Mentri baru. Kemudian, muncullah Yayasan Pendidikan Al Qur'an (YPA) yang ada di bawah naungan Pertamina. Bapak Letjen Dr. Ibnu Sutowo sebagai Dirut Pertamina waktu itu sangat memperhatikan PTIQ. Beliau terus mengambil alih pengelolaan dan pendanaan PTIQ dan diangkatlah beliau sebagai Ketua Dewan Kurator, di antaranya Bapak Zainal Abidin yang sekarang masih ada.

Sejak itulah tanpa Yosman dan mahasiswa PTIQ lainnya menyadari bahwa mereka mempunyai orangtua baru, yaitu para petinggi Pertamina dan konglomerat-konglomerat rekanan Pertamina. Kesadaran ini mereka rasakan pada awalnya saat ada acara selamatan di rumah bapak Ibnu Sutowo yang dihadiri oleh para petinggi dan kolega Pertamina. Para mahasiswa PTIQ semua diundang untuk membaca doa selamatan. Peristiwa ini mendapat perhatian para undangan yang hadir. Sejak itulah bila ada acara selamatan di mana saja, mereka diundang, sampai peresmian Hotel Hilton di Senayan pun mereka juga diundang. Sejak itu hampir setiap bulan mereka mendapat undangan dan sudah pasti ada saja oleh-oleh dan bingkisan yang mereka bawa pulang dan tak ketinggalan amplopnya.

YPA ini luar biasa. Kehidupan para mahasiswa PTIQ terasa lebih mewah, beberapa kali mereka dibawa berwisata ke Cipanas, Cibodas, Puncak dan Pantai Pelabuhan Ratu. Para mahasiswa tahun pertama, pada tahun 1973 dibawa keliling Pulau Jawa sampai ke Pulau Bali. Mereka dibawa dengan menggunakan bus Pertamina, sebuah perjalanan yang mengasyikan.

Pada tahun 1975, sewaktu MTQ tingkat nasional di Palembang, para mahasiswa PTIQ angkatan tahun 1971 dengan inisiatif sendiri mencari dana untuk dapat menghadiri MTQ di Palembang. Mereka membuat kertas kerja (proposal) dengan persetujuan Rektor PTIQ lengkap dengan rincian biaya transportasi, konsumsi, penginapan dan lain-lain. Setelah itu mereka mengajukan kepada kalangan anggota Dewan Kurator. Baru pertama mereka ajukan yaitu kepada Bapak Syaiful, beliau membaca dengan teliti sambil manggut-manggut, kemudian beliau menarik pulpen dari saku bajunya dan tanpa mereka duga beliau melingkari dan menandatangani jumlah keseluruhan biaya yang mereka ajukan dengan penanya. Para mahasiswa yang melihatnya langsung memanjatkan syukur dan sangat terharu, karena biaya yang sangat besar pada waktu itu bila hanya ditanggung oleh satu orang. Alhamdulillah, Yosman dan teman-temannya tidak lagi mengajukan kepada yang lainnya. Hal itu mereka laporkan kepada Ketua Yayasan serta menfinformasikan tentang hari keberangkatan mereka.

Beberapa hari setelah itu, tanpa Yosman dan teman-temannya duga, Yayasan memberitahu bahwa sesampainya di stasiun kereta api di Palembang, para mahasiswa PTIQ akan dijemput oleh bus Pertamina dan akan dibawa ke guest house Pertamina di Plaju. Di sana mereka menginap selama di Palembang berikut dengan angkutan busnya. Dapat dibayangkan berapa banyak kelebihan uang anggaran dari pak Syaiful karena sebagian item anggaran sudah ditutup oleh Pertamina Plaju. Alhamdulillah tidak putus-putusnya mereka bersyukur ke hadhirat Allah.

Yosman menjalani perkuliahan di PTIQ dengan penuh suka dan duka. Ia tidak dapat membayangkan sebelumnya, meski hanya jebolan PGA, namun ia harus menghadapi pelajaran perkuliahan dengan membaca kitab Arab gundul dan menghafal Al-Quran. Orang tua dan keluarga Yosman terus mendukung dan menguatkan dirinya agar membulatkan tekad dan bekerja keras untuk terus maju. Ujian pada tingkat lima (kalau sekarang istilahnya Semester Akhir) dengan beberapa mata kuliah yang her (ujian ulang), Alhamdulillah dapat ia selesaikan. Akan tetapi dengan mata kuliah Tahfidz yang harus diselesaikan secara lisan, Yosman harus menghabiskan banyak waktu. Pada masa yang sama, para mahasiswa PTIQ angkatan '71 sudah harus hengkang dari asrama di Pasar Jumat, karena mahasiswa baru bertambah terus. Mereka yang masih tertinggal 12 orang  disediakan rumah kayu dua kamar berlokasi di Kampung Utan Ciputat, persis di belakang IIQ dan tanah pondoknya pun tanah untuk IIQ juga. Makanan harian mereka disuplai dari IIQ. Hampir setahun Yosman menyelesaikan ujian Tahfidz langsung kepada guru besar Syekh Abdul Qadir. Akhirnya, perjuangan Yosman selesai dan pindah tempat tinggal di rumah Pamannya.

Yosman masih teringat Prof. Ibrahim Hossen pernah mengatakan bahwa PTIQ tidak mencetak lulusan  untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Perkataan itu terus terngiang di telinganya. Pada waktu itu sedang ada trend para mahasiswa PTIQ mengambil ujian untuk mendapatkan sarjana muda di IAIN, dengan modal Ijazah IAIN tentu bisa melanjutkan kuliah dimana saja. Tetapi ia tidak ikut ujian persamaan di IAIN. Untuk diketahui, ijazah PTIQ belum diakui oleh Departemen Agama dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Setelah selesai menjalani semua ujian di PTIQ dan dinyatakan lulus, Yosman berpikir mau melamar kerja di mana? Untuk berdagang tidak ada bakat, meski berdarah Minang. Nasib baik, ada relasi keluarganya mengajak bekerja. Sempat juga bekerja selama lima bulan dan namun ia merasa tidak ada masa depan. Ia mencoba melamar kerja pun tidak, mengingat ijazah yang dikantongi hanyalah dari PTIQ. Yosman sudah menyerah terlebih dahulu.

Mengingat belum ada kejelasan bila akan diadakannya wisuda, dan umurpun semakin bertambah tua, terpikirlah Yosman mencoba mengadu nasib di negara jiran Malaysia. Kebetulah di sana ia ada keluarga. Hubungan keluarga ini cukup erat karena bila mereka datang ke Jakarta, Yosmanlah yang sering menjadi pemandunya dan mereka sering juga mengajaknya untuk datang ke Kuala Lumpur. Teringat begitu, Yosman pun menghubungi mereka dan memberitahu hasratnya untuk mencoba nasib di sana. Keinginannya disambut baik, begitu juga dengan keluarga. Semua dokumen Yosman siapkan. Sebelum berangkat, ia membaca buku tentang Malaysia dan sejarahnya agar ia punya gambaran bagaimana kondisi Negara Malaysia yang akan ia kunjungi. Tanpa memikirkan hari untuk wisuda, Yosman terbang ke Malaysia dengan penuh harapan.

Bulan Nopember 1979 Yosman terbang ke Malaysia dari Pekanbaru ke Malaka. Pada waktu itu hubungan udara dari Indonesia ke Malaysia hanya tiga yaitu dari Jakarta ke Kuala Lumpur, dari Medan ke Kuala Lumpur dan dari Pekanbaru ke Malaka. Sesampainya di Malaka ia melihat suasana tak ubahnya seperti di Indonesia, baik orang-orangnya, kendaraannya, makanan-makanannya. Terasa beda bila ia melakukan pembayaran dengan mata uang lain yaitu Ringgit Malaysia. Dari Airport Malaka ia naik taxi ke Kuala Lumpur. Taxi antar kotanya menggunakan sedan Mercedes Benz bisa muat empat orang penumpang. Pembayarannya seperti naik travel di Indonesia, setiap penumpang dipungut bayaran dan di antar ke alamat masing-masing. Jarak Melaka - Kuala Lumpur 160 km. Waktu itu di Malaysia belum ada jalan tol, tapi jalannya lebar dan mulus.

Sepanjang perjalanan selama dua jam, mulailah muncul pertanyaan di benak Yosman, kira-kira apa yang akan ia lakukan di Malaysia nanti. Kiri kanan jalan banyak perkampungan dan kebun karet, kelapa sawit belum populer waktu itu. Memasuki kota Kuala Lumpur tidak terlihat bangunan-bangunan pencakar langit dan modern. Padahal waktu itu di Jakarta sudah ada bangunan-bangunan tinggi dan sudah mempunyai jalan tol Jakarta-Ciawi. Pokoknya Jakarta jauh lebih maju dan canggih dibandingkan Kuala Lumpur. Pada waktu itu ia merasa bangga menjadi orang Indonesia, karena waktu itu WNI yang berada di Malaysia adalah kalangan elit, seperti para guru, dosen dan dokter yang  waktu itu dibutuhkan Malaysia melalui program G to G. Jadi setiap orang Indonesia dihormati,  mereka panggil kita "Bapak" atau "ibuk" untuk wanita. Untuk bicara mereka berusaha menirukan logat Indonesia. Pada waktu itu film layar lebar dan film drama TV banyak berasal dari Indonesia. Penyanyi dan artis film Indonesia sangat mereka kenal. Kondisi Malaysia waktu itu dan 10 tahun ke depan belum ada TKI dan TKW. Memang waktu itu Indonesia jauh lebih maju.

Yosman memperhatikan Malaysia tampaknya sedang membangun sumber manusianya. Banyak mahasiswa-mahasiswa Malaysia yang belajar di berbagai Universitas di Indonesia. Akademi Pelayaran hanya ada Indonesia. Jadi kapten-kapten kapal seusianya hampir semuanya dari AIP Indonesia. Boleh dikatakan Malaysia sedang gencarnya membangun manusianya. Mahasiswanya diberikan bea siswa untuk meneruskan pendidikan di luar negeri termasuk ke Indonesia. UI, GAMA, Unpad, ITB dan IPB adalah pilihan utama mereka selain pendidikan tinggi Indonesia lainnya. Untuk pendidikan agama mereka mengirimkan mahasiswanya ke Mesir, Madinah dan IAIN, termasuklah pada angkatannya di PTIQ ada dua orang mahasiswa Malaysia belajar di PTIQ. Mereka diberi bea siswa penuh. Rata-rata bea siswanya cukup mewah sehingga mereka bisa memiliki kendaraan motor seperti halnya yang ia lihat mahasiswa Malaysia di PTIQ.

Karena kehidupan mereka selama pendidikan cukup sejahtera, menjadikan mereka pria pilihan wanita. Banyak di antara mereka selain meraih ijazah sarjana, juga meraih buku nikah termasuklah salah seorang alumni PTIQ asal Malaysia, selesai sarjana muda terus kembali ke Malaysia sambil memboyong gadis Bogor. Sehingga di Malaysia ada organisasi PAPTI (Persatuan Alumni Perguruan Tinggi Indonesia), anggotanya ada yang menjadi Menteri di Kabinet Malaysia dan pintar bahasa Jawa. Seperti dikatakan tadi bahwa Malaysia gencar membangun sumber manusianya sehingga para Alumni Institut Pertanian Bogor asal Malaysia dan dibantu oleh para dosen-dosen IPB mereka mendirikan Universiti Pertanian Malaysia (UPM) di daerah Serdang, Selangor.  Mereka mempunyai area yang sangat luas dan tersusun rapi lengkap dengan hotel berbintang empat.

Di Malaysia, Yosman menetap di rumah yang ada tali persaudaraan dan mereka jugalah yang menawarkan untuk datang ke Malaysia. Beliau seorang pakar mata dan terakhir beliau menjadi seorang dosen. Dua orang anaknya mengikut jejak menjadi dokter pakar mata. Salah seorangnya punya klinik pakar mata sendiri.

Dari kalangan rekan-rekan keluarga, Yosman mendapat informasi bahwa untuk menjadi tenaga pengajar seseorang itu akan diteliti latar belakang pendidikan dan fahaman yang dianutnya. Kebanyakan tenaga pengajar bidang agama, banyak diisi oleh graduan (Alumni) dari Timur Tengah. Untuk menjadi seorang pendakwah perlu punya sijil dan sertifikat yang dikeluarkan oleh Jabatan Agama Islam, selain seseorang itu harus punya permanent residence yang dikeluarkan oleh Jabatan Pendaftaran setelah dipersetujui oleh Jabatan Imigrasi dengan cap di dalam paspor.  Terasa agak rumit dengan prosedur yang harus ditempuh, maka  terpikir juga membuat usaha-usaha sendiri semacam UKM di Indonesia, namun itu pun tersangkut dengan izin tinggal, karena visanya masih dalam status pelancong. Untunglah ada kalangan keluarga mengajak bekerja dengannya meskipun seharusnya musti ada permit kerja.

Setelah beberapa kali memperpanjang visa izin menetap, petugas imigrasi Malaysia menyarankan sebaiknya Yosman memohon "Permit Masuk". Dengan dikeluarkannya Permit Masuk tersebut maka akan dikeluarkanlah kartu Penduduk Tetap yang dikenal dengan "IC" Identity Card berwarna merah. Kalau sudah memiliki IC tersebut, kita bisa menikmati fasilitas-fasilitas perobatan, membuat izin usaha dan lainnya; yang tidak boleh hanyalah Memilih dan Dipilih, karena status kita masih warga negara asing.

Waktu terus berjalan dan sekali waktu main-main ke KBRI, karena di sana ada juga kalangan keluarga bekerja. Ada waktu kosong Yosman main ke KBRI dan sering diundang bila ada kegiatan kemasyarakatan. Suatu hari ketika berkunjung ke KBRI, ia melihat ada kesibukan.  Ada beberapa staf yang ia kenal juga sedang aktif dengan kegiatan masing-masing.  Sembari menyapa, Yosman bertanya, "Ada apaan nich sibuk banget ?".  Teman itu menjawab : "Di KBRI akan diadakan Penataran P-4".  Kemudian dia menawarkan kalau ia mau ikut serta membantu, silakan  masuk membantu tugas Sekretariat. Yosman tertarik dengan tawaran tersebut.  Ia kembali pulang dan terus minta izin majikan yang juga masih keluarga dan mereka tidak keberatan.

Hari berikutnya Yosman ke KBRI dan menyatakan kesediaan untuk membantu di  Sekretariat. Hari itu juga ia sudah diberikan tugas mempersiapkan ruang penataran dan persiapan lainnya serta menyusun persiapan makalah-makalah  untuk penataran. Beberapa hari kemudian Team Penatar sudah datang ke KBRI dan terus mengadakan rapat kecil, ia diperkenalkan dengan Ketua dan Anggota Team. Keesokan harinya Team Penataran mengadakan rapat dengan para diplomat KBRI yang dipimpin langsung oleh Duta Besar yang waktu itu Letjen (P) Rais Abin. Ia merasa tersanjung baru beberapa hari sudah ikut rapat bersama Dubes dan para diplomat lainnya.  Peserta penataran selain para diplomat dan staf KBRI, juga diikuti oleh para ekspatriat tokoh masyarakat. Penataran berlangsung beberapa hari  sampailah berakhir. Pada pelaksanaan penataran ia ditugaskan membagi bagikan makalah dan membantu keperluan peserta dengan tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah.  

Setelah penataran usai, Yosman beberapa hari masih bekerja memberes-bereskan Sekretariat dan ada di antara peserta yang juga seorang diplomat KBRI meliriknya dan nyeletuk, "Kamu bekerja di sini sajalah." (maksudnya KBRI). Hal itu didengar oleh Ketua Sekretariat yang juga Pegawai Tetap KBRI. Merasa dirinya bekerja cukup bagus lalu beliau menyarankan kepadanya untuk berjumpa Atase Administrasi yang juga peserta penataran. Yosman memasuki ruang Atase Adminitrasi dan disambut hangat, maklum beliau kenal masa penataran. Beliau yang memulai pembicaraan menanyakan keinginannya bekerja, Yosman menjawab "ya". Kemudian ia disuruh menemui Kepala Bidang Penerangan karena bidang tersebut banyak pekerjaan dan  memerlukan tambahan Staf.

Alhamdulillah, Yosman diterima dengan status percobaan. Setelah masa percobaan dua bulan bekerja dengan gaji 70% ia dipanggil lagi oleh Atase Administrasi melengkapi persyaratan sebagai staf tetap KBRI. Ditanyakan, “Kamu lulusan apa?” Yosman menjawab Sarjana Lengkap (Drs) Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta. Beliau kelihatan heran juga mendengarnya, tetapi atas dasar nota dukungan Kepala Bidang Penerangan (atasannya) tanpa banyak cerita Yosman langsung diangkat pegawai tetap KBRI Kuala Lumpur dengan basic Sarjana Lengkap tanpa mempersoalkan kelulusan dari mana. Alhamdulillah. Bidang Penerangan ini selain sebagai juru bicara KBRI juga menangani media dan  BINMAS yang dikepalai seorang diplomat berpangkat Minister Counsellor. Bidang ini juga menerbitkan bulletin bulanan berbahasa Indonesia dan Inggris. (sekarang hanya berbahasa Indonesia) untuk komunitas Indonesia yang berisi berita-berita penting seputar Indonesia dan mensosialisasikan kebijakan Jakarta dan KBRI.

Yosman diminta menjadi juru foto resmi untuk mendokumentasikan segala kegiatan KBRI dan mengisi gambar untuk bulletin. Ia diserahi membuat pilihan kamera yang akan digunakan. Ia mintakan saran di kalangan wartawan foto untuk memilih kamera terbaik waktu itu, pilihannya adalah Nikon F3. Ia pun belajar menggunakannya dari toko penjual. Tidak lama ia dapat menguasai kamera ini. Mungkin karena nalurinya punya kelebihan melihat dengan cepat moment  dan saat-saat yang terbaik untuk mengambil foto, hasil jepretannya disenangi atasannya termasuk Dubes. Yosman dibawa kemana-mana mendampingi Dubes dan tamu-tamu  VVIP untuk mengadakan kunjungan resmi. Bila ada kunjungan RI-1, ia ditempatkan di Posisi Ring-1.

Begitulah, hampir 30 tahun Yosman bekerja di KBRI, tetap saja memegang tustel atau kamera yang sudah menjadi hobby dan tidak pernah dimutasi hingga ia pensiun pada tahun 2010 pada usia 58 tahun.

Malaysia, menurut Yosman, adalah sebuah Negara dengan sistem Raja Berperlembagaan dengan kepala negaranya "Yang Di-Pertuan Agong" yang juga sebagai pemimpin agama di Malaysia. Yang Di-Pertuan Agong dipilih oleh Majelis Raja-raja dari 9 buah negeri (propinsi) yang mempunyai Sultan/Raja yang akan memimpin selama lima tahun secara bergiliran.

Sedangkan kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri pemenang Pilihan Raya (PEMILU) yang diadakan setiap lima tahun sekali. Seorang Perdana Menteri haruslah seorang anggota parlemen yang menang pada Pilihan Raya di kawasan pemilihannya. Seorang Perdana Menteri juga adalah seorang ketua partai dan juga ketua partai koalisinya.  Pemenang Pilihan Raya selalunya partai-partai berkoalisi. Sesama partai yang tergabung dalam koalisi tidak akan bertanding di tempat yang sama dan mereka akan menggunakan logo atau lambang koalisinya bukan lambang partai. Lawannya adalah partai-partai lainnya. Selain itu juga ada calon bebas (yang tidak punya partai) tetapi mereka akan meletakkan uang dg jumlah tertentu sebagai taruhan; kalau suaranya tidak mencapai angka minimum, uang pertaruhannya akan hilang. Kepala pemerintahan Malaysia di pusat adalah Perdana Menteri dan di negeri-negeri (Propinsi) kepala pemerintahannya adalah Menteri Besar (negeri yang ada Raja) dan Ketua Menteri (negeri yang tidak punya Raja) seperti Malaka, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak. Hanya inilah pemimpin pusat dan di negeri-negeri yang dimenangi lewat Pilihan Raya, pemimpin-pemimpin negeri bawah lainnya di negeri-negeri adalah aparatur negara yang ditunjuk berdasarkan kelayakan dan pangkat. Di Malaysia tidak ada yang namanya "Pilkada". Di Malaysia wakil-wakil rakyatnya hanya ada di pusat dan di negeri2 disebut Dewan Undangan Negeri (DUN) setingkat DPRD Tingkat1.  Keputusan Pilihan Raya sudah dapat diketahui paling lambat jam 10 malam atau lewat sedikit.

Bila seseorang anggota parlemen atau anggota DUN meninggal dunia, maka di kawasannya itu akan diadakan lagi Pilihan Raya Kecil untuk memilih anggota parlemen yang baru. Untuk diketahui jika terjadi keputusan Pilihan Raya partai memerintah sebelumnya ternyata kalah oleh koalisi partai oposisi, maka pada saat itu juga kepala pemerintahan di pusat maupun di negeri-negeri yang juga kalah, status mereka langsung hilang dan tidak dibenarkan kembali ke kantornya semula. Kantor-kantor mereka disegel tidak dibenarkan siapapun masuk dan tidak boleh secarikpun dokumen-dokumen keluar. Hal ini terjadi pada Pilihan Raya tahun 2018, di mana partai koalisi yang dipimpin Najib Razak kalah, dia tidak dibenarkan masuk, begitu juga dengan kantor menteri-menterinya. Untuk diketahui partai-partai yang ingin memenangi Pilihan Raya dan untuk meraup suara mayoritas, mau tidak mau musti berkoalisi, begitu juga partai-partai oposisi akan berkoalisi juga untuk dapat meraih suara mayoritas di Parlemen.

Untuk mengadakan Pilihan Raya, waktu dan saatnya ditentukan sendiri oleh Perdana Menteri yang memerintah waktu itu. Bisa saja dipercepat tetapi tidak boleh melebihi waktunya. Bila Perdana Menteri sudah menghadap Yang Di-Pertuan Agong dan meminta perkenannya untuk membubarkan parlemen, maka saat itulah Suruhanjaya Pilihan Raya (panitia pemilu) menentukan kapan akan diadakan. (*)